keterampilan membaca indah puisi
A. Pendahuluan
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa dan sastra. Berbahasa merupakan bentuk komunikasi atau menyampaikan pesan kepada orang lain baik itu melalui lisan, tulisan, maupun isyarat. Bersastra merupakan kegiatan mengekspresikan jiwa berdasarkan hasil imajinasi seseorang yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra baik itu puisi, prosa, maupun drama. Bersastra juga merupakan kegiatan mengapresiasi hasil karya sastra seseorang Dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia siswa dilatih untuk mampu berkomunikasi dengan baik dan benar secara lisan maupun tertulis. Siswa juga dilatih untuk mampu menilai hasil karya sastra bahkan menghasilkan karya sastra.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa dan sastra. Berbahasa merupakan bentuk komunikasi atau menyampaikan pesan kepada orang lain baik itu melalui lisan, tulisan, maupun isyarat. Bersastra merupakan kegiatan mengekspresikan jiwa berdasarkan hasil imajinasi seseorang yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra baik itu puisi, prosa, maupun drama. Bersastra juga merupakan kegiatan mengapresiasi hasil karya sastra seseorang Dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia siswa dilatih untuk mampu berkomunikasi dengan baik dan benar secara lisan maupun tertulis. Siswa juga dilatih untuk mampu menilai hasil karya sastra bahkan menghasilkan karya sastra.
Sastra merupakan bagian dari mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembelajaran sastra Indonesia bertujuan (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006) agar peserta didik memiliki kemampuan 1) memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan berbahasa, 2) mengekpresikan dirinya dalam medium sastra, dan 3) menghargai serta membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Pembelajaran sastra terutama pembelajaran membaca puisi selama ini, guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa memilih puisi, melakukan apresiasi, berkreasi melakukan dramatisasi membaca puisi, dan latihan dasar teater. Padahal dengan memilih puisi, siswa akan aktif menentukan puisi yang paling sesuai untuk dibaca. Dengan dramatisasi, siswa bisa berkolaborasi untuk meminimalisasi kecemasan. Dengan latihan dasar teater, siswa akan mendapatkan bekal membaca puisi dengan interpretasi, vokal, dan penampilan yang sesuai.
Pembelajaran membaca puisi selama ini merupakan bentuk pembelajaran yang kurang apresiatif (Noor 2011:111). Guru masih mengajarkan membaca puisi dan belum mengajarkan bagaimana membaca puisi. Dengan demikian, pembelajaran membaca puisi dinilai masih kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran sastra. Kenyataan seperti itu sudah lama bahkan sampai sekarang masih terjadi. Hal itu makin membenarkan pendapat Winarti (2006:45) di dalam tulisannya yang berjudul Hubungan Pengetahuan Buku Figuratif dan Kemampuan Meresepsi Puisi Indonesia Modern, bahwa pembelajaran sastra menjadi makin menonjol ketika guru menghindari materi sastra yang bersifat apresiatif dan menggantinya dengan teori sastra, bahkan ada yang meninggalkan sama sekali. Bentuk evaluasi yang dilakukannya pun masih pada tataran teori dan kurang atau bahkan belum sampai pada tataran praktik. Kalau itu yang terjadi, hasil pembelajaran membaca puisi yaitu siswa sekadar bisa membaca puisi untuk dirinya sendiri dan belum membacakan puisi yang bisa dinikmati oleh orang lain. Siswa membaca puisi masih dengan interpretasi, vokal, dan penampilan yang kurang sesuai.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa, pembelajaran membaca puisi kurang mendapat perhatian dari guru dalam menyampaikan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pemahaman maupun penghayatan siswa terhadap makna puisi menjadi rendah. Hal ini juga mengakibatkan minat siswa menjadi berkurang dalam seni membacakan puisi dan merasa enggan untuk mengasah kemampuan bersastra, khususnya membaca puisi. Hal tersebut juga ditunjukkan oleh materi yang disampaikan oleh guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia yang menitikberatkan pada teori sehingga kurang adanya praktik. Padahal dalam pembelajaran membaca puisi tidak hanya membutuhkan teori semata, tetapi juga praktik membacanya. Guru lebih mengutamakan pencapaian nilai untuk nilai ujian siswa. Hal itu menyebabkan siswa menjadi kurang bisa untuk praktik membaca puisi di muka kelas sehingga keinginan siswa untuk mengembangkan kemampuannya menjadi berkurang.
Usaha guru dalam membelajarkan keterampilan membaca puisi juga masih kurang memenuhi harapan. Selama ini guru kurang melakukan persiapan sebelum mengajar. Guru hanya mengandalkan teori dikarenakan faktor gengsi yang dimiliki sekolah yang memandang sastra sebelah mata. Metode yang digunakan guru pun masih sederhana dengan menggunakan metode ceramah dan evaluasi tertutup. Penilaian dilakukan secara tertutup yang hasilnya hanya diketahui oleh guru saja sehingga siswa tidak tahu seberapa jauh kekurangannya dalam mengapresiasi dan mengekspresikan puisi. Siswa sulit memperbaiki hasil belajar yang kurang memenuhi target. Hal itu menyebabkan siswa kurang tertarik dengan pembelajaran yang diajarkan. Siswa cenderung merasa jenuh dengan strategi mengajar yang digunakan oleh guru.
Selain itu, Smith (2009:1) berpendapat bahwa kecemasan menghambat siswa untuk melakukan pembelajaran. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kecemasan perlu diatasi. Dramatisasi secara psikologis sangat efektif untuk meminimalisasi kecemasan, melatih keberanian,bahkan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta didik agar bisa belajar membaca puisi dengan menyenangkan. Dramatisasi yang menuntut adanya kolaborasi antarsiswa sangat efektif untuk membangun sikap kerjasama, saling asah, asih, dan asuh sesuai dengan filosofi pendidikan di Indonesia. Itulah bentuk pengalaman belajar yang luar biasa nilainya. Dengan pengalaman belajar seperti itu, penulis meyakini bahwa pembelajaran akan menjadi lebih berkesan bahkan terpatri dalam memori sepanjang hayat sebagai pengalaman yang sangat berharga oleh siswa. Dengan pengalaman itu pula, siswa akan mau belajar, dan terus belajar untuk mengembangkan talenta yang dimilikinya. Akhirnya, siswa akan memiliki kompetensi membaca puisi.
Ada dua masalah yang berkaitan dengan pembelajaran membaca puisi di sekolah. Kedua masalah itu antara lain 1) siswa pada umumnya mengalami kecemasan, masih kurang berani tampil, merasa malu, merasa takut, minder, dan masih kurang percaya diri untuk membaca puisi, 2) siswa kurang berkompetensi dalam membaca puisi. Kedua masalah tersebut disebabkan oleh adanya empat faktor. Keempat factor itu 1) kurangnya motivasi belajar siswa, 2) pembelajaran masih kurang kolaboratif, 3) penggunaan bahan ajar yang kurang bervariasi, dan 4) penggunaan model pembelajaran sastra yang kurang memberi peluang siswa melakukan apresiatif, kolaboratif, interaktif,aktif, kreatif, dan rekreatif.
Faktor pertama, kurangnya motivasi belajar membaca puisi. Smith (2009:2-3) berpendapat bahwa motivasi memberikan kontribusi terhadap keberhasilan pembelajaran. Dengan motivasi, siswa memiliki semangat untuk belajar (Johnson2008:198). Oleh karena itu, motivasi dalam belajar membaca puisi menjadi penting untuk dilakukan. Faktor kedua adalah pembelajaran masih kurang kolaboratif. Hal ini tampak pada pembelajaran membaca puisi menggunakan strategi Stratta (Waluyo 2001:180). Siswa hanya fokus pada upaya secara individu untuk bisa memiliki kompetensi membaca puisi. Kalau ini yang terjadi, pembelajaran sastra hanya akan mampu menghasilkan manusia-manusia yang egois individualis. Egois individualis ini sangat bertentangan dengan filosofi pendidikan di Indonesia yang lebih mengedepankan kolaborasi.
Faktor ketiga adalah penggunaan bahan ajar yang kurang bervariasi. Seringkali guru hanya menggunakan bahan ajar dari buku teks atau lembar kegiatan siswa. Puisi-puisinya pun hanya berkutat pada beberapa pengarang Angkatan Balai Pustaka hingga Angkatan ’66. Jarang ada guru yang berani mengambil contoh puisi yang ditulis para penyair terkini, misalnya Acep Zamzam Noer, Zawawi Imron, F. Rahardi, Joko Pinurbo, Triyanto Triwikromo, dan Gemi Mohawk. Hampir tidak ditemukan guru yang berani mengajarkan membaca puisi hasil karya penyair-penyair lokal, puisi karya gurunya sendiri, atau bahkan puisi-puisi karya siswa sendiri. Padahal, puisi-puisi inilah yang kontekstual.
Faktor keempat adalah model pembelajaran membaca puisi yang kurang memberi peluang siswa melakukan apresiatif, kolaboratif, interaktif, aktif, kreatif, dan rekreatif. Guru masih membelajarkan siswa secara individual yang jauh dari kebersamaan. Guru masih sebatas menggunakan interaksi satu arah, yaitu guru dengan siswa, siswa dengan guru, dan kurang adanya interaksi siswa dengan siswa, bahkan siswa dengan masyarakat. Guru kurang memberikan peluang siswa untuk aktif dalam pembelajaran apalagi untuk berkreasi. Karena pembelajaran bersifat teoretis, individualis, hafalan, dan verbal, pembelajaran pada akhirnya monoton, kurang menarik, dan membosankan.
Di antara keempat faktor tersebut, faktor keempatlah yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan tujuan pembelajaran membaca puisi. Hal ini disebabkan oleh pentingnya peran guru dalam mengelola proses pembelajaran. Guru yang kreatifakan mampu mengelola pembelajaran sastra yang apresiatif, kolaboratif, interaksi, aktif, kreatif, dan rekreatif.
B. Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia. (Herman Waluyo). Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
Pengertian lain dari puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat (James Reevas). Puisi merupakan ungkapan pikiran yang bersifat musikal (Thomas Carlye). Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan (Pradopo). Puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan (Herbert Spencer).
1. Bentuk dan Struktur Puisi
Puisi adalah sebuah struktur yang terdiri dari unsur-unsur pembangun yang bersifat padu dan tidak dapat dipisahkan tanpa mengaitkan unsur yang lainnya. Menurut Waluyo (2001:27), puisi dibangun oleh unsur pokok yakni struktur batin dan struktur fisik puisi. Struktur fisik puisi : diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Imaji yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Kata konkret yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Gaya bahasa yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Rima/Irama adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Tipografi yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
Sedangkan sruktur batin puisi : Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca Amanat/ tujuan/ maksud (itention); yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.
2. Puisi untuk Dramatisasi
Puisi dilihat dari segi bentuk dan jenisnya dapat bermacam-macam. Yang jelas, apa pun jenis dan bentuknya, puisi itu enak dibaca untuk sendiri terlebih-lebih bagi yang hobi membaca puisi. Tetapi, tidak setiap puisi enak untuk dibacakan bahkan didramatisasikan. Ada karakteristik tertentu yang menjadikan puisi dipilih untuk dramatisasi. Puisi untuk dramatisasi mempunyai karakteristik tersendiri. Karakteristik puisi secara khusus bersifat monolog. Seperti dijelaskan (Doyin 2008:6) jika semula puisi bersifat monolog, dengan pengubahan menjadi dramatisasi, puisi diubah menjadi dialog. Dengan demikian, puisi-puisi yang memenuhi syarat untuk didramatisasikan adalah puisi-puisi yang di dalamnya memiliki unsur-unsur naratif dan dramatik.
Dramatisasi ini muncul di tahun 70-an masih. Pada awalnya dramatisasi ini dilakukan dengan pola satu orang membaca utuh puisi itu lalu beberapa kata yang dianggap menyangatkan dalam puisi itu, yang dianggap memberi aksen dramatic dibacakan oleh beberapa orang lain secara serempak bahkan berulang-ulang. Akhirnya dramatisasi puisi ini berkembang menjadi puisi yang di-drama-kan. Di dalam dramatisasi puisi, puisi disajikan dalam bentuk drama. Puisi yang dipilih untuk didramatisasikan sebaiknya yang mengandung tokoh, dialog, juga alur/ plot, sehingga akan lebih mudah untuk didramatisasikan.
Pengolahan sebuah puisi menjadi sebuah naskah drama tentu tidak mudah. Kita tidak bisa seenaknya mendramakan sebuah puisi, namun ternyata menghilangkan jiwa puisi tersebut. Hal tersebut tidak dibenarkan, karena tujuan mendramatisasikan sebuah puisi justru untuk memvisualisasikan puisi tersebut, membuatnya menjadi lebih “hidup”, dan membuatnya menjadi lebih bisa diapresiasi serta dipahami oleh pembaca maupun penonton. Puisi untuk dramatisasi tidak terlalu pendek serta bisa benar-benar untuk kolaborasi.
AROMA MAUT
karya
Nico saputra
karya
Nico saputra
Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepas
tepat di saat tak jelas batas-batas, sayangku:
Segalanya terhempas, o segalanya terhempas!
(Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana.
Angin masih berhembus, topannya entah ke mana.
Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana?
Semesta masih belantara, sunyi sendiri ke mana?)
Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Barangkali hilir-mudik di suatu titik
tumpang-tindih merintih dalam satu nadi, sayangku:
Sampai tetes-embun pun selesai, tak menitik!
(Gelombang lain datang begitu lain.
Topan lain datang begitu lain.
Gelap lain datang begitu lain.
Sunyi lain begitu datang sendiri tak bisa lain!)
Padang, 1977/1978
Puisi : Hamid Jabbar
Tiga orang duduk bersila dan memejamkan mata. Seorang wanita datang memandangi ketiga orang itu dan menghembus wajah orang orang yang berada di paling kanan membuka mata secara tiba-tiba setelah itu ia melihat kekanan dan orang dikanannya membuka mata demikian seterusnya hingga ketiga-tiganya membuka mata. Mereka seperti takjub melihat ke sekeliling sedangkan wanita itu berdiri tegak menghadap kosong ke depan.
Wanita : Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Ketiga orang yang mendapat pertanyaan itu seperti bingung dan tak mampu menjawabnya.
Wanita : Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepas
Ketiga orang itu saling memandang.
Wanita : Tepat di saat tak jelas batas-batas, sayangku:
Segalanya terhempas, o segalanya terhempas!
Ketiga orang itu perlahan-lahan berdiri.
Orang pertama : Laut masih berombak, gelombangnya entah kemana
Orang kedua : Angin masih berhembus topan entahnya kemana
Orang ketiga : Bumi masih beredar, getarnya sampai kemana-mana
Wanita : (setengah berteriak)
Semesta masih belantara, sunyi sendiri kemana?
Ketiga orang itu kembali terdiam.
Ketiga orang itu saling memandang.
Wanita : Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Orang pertama : Barangkali hilir-mudik di suatu titik
Wanita : Tumpang tindih menindih dalam suatu titik, sayangku?
Ketiga orang itu kembali saling melihat.
Wanita : Hahahahahahaha
Sampai tetes embun pun selesai, tak menitik!
Wanita maju meninggalkan ketiga orang itu sampai agak jauh kedepan. Ia terhenti saat orang pertama buka suara.
Orang pertama : (maju dua langkah)
Gelombang lain datang begitu lain
Orang kedua : (maju dua langkah)
Topan lain datang begitu lain.
Orang ketiga : (maju dua langkah)
Gelap lain datang begitu lain
Suasana senyap sebentar.
Wanita : Sunyi lain begitu datang sendiri tak bisa lain.
Wanita perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, sedangkan layar tertutup.
Ketiga orang yang mendapat pertanyaan itu seperti bingung dan tak mampu menjawabnya.
Wanita : Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepas
Ketiga orang itu saling memandang.
Wanita : Tepat di saat tak jelas batas-batas, sayangku:
Segalanya terhempas, o segalanya terhempas!
Ketiga orang itu perlahan-lahan berdiri.
Orang pertama : Laut masih berombak, gelombangnya entah kemana
Orang kedua : Angin masih berhembus topan entahnya kemana
Orang ketiga : Bumi masih beredar, getarnya sampai kemana-mana
Wanita : (setengah berteriak)
Semesta masih belantara, sunyi sendiri kemana?
Ketiga orang itu kembali terdiam.
Ketiga orang itu saling memandang.
Wanita : Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Orang pertama : Barangkali hilir-mudik di suatu titik
Wanita : Tumpang tindih menindih dalam suatu titik, sayangku?
Ketiga orang itu kembali saling melihat.
Wanita : Hahahahahahaha
Sampai tetes embun pun selesai, tak menitik!
Wanita maju meninggalkan ketiga orang itu sampai agak jauh kedepan. Ia terhenti saat orang pertama buka suara.
Orang pertama : (maju dua langkah)
Gelombang lain datang begitu lain
Orang kedua : (maju dua langkah)
Topan lain datang begitu lain.
Orang ketiga : (maju dua langkah)
Gelap lain datang begitu lain
Suasana senyap sebentar.
Wanita : Sunyi lain begitu datang sendiri tak bisa lain.
Wanita perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, sedangkan layar tertutup.
3. Membaca Puisi dan Membacakan Puisi
Membaca puisi berbeda dengan membacakan puisi. Membacakan puisi hakikatnya menjiwakan puisi. Membacakan puisi merupakan upaya menyampaikan pesan dari penulis kepada pendengar. Membacakan puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi, melainkan juga mengekpresikan perasaan dan jiwa (Haryanto 2009:1-3). Di sinilah sebenarnya, konsep membaca berbeda dengan membacakan.
Membaca puisi merupakan kegiatan reseptif bukan produktif. Membaca bermakna reflektif artinya melakukan pekerjaan untuk diri sendiri sedangkan membacakan bermakna benefaktif artinya melakukan pekerjaan untuk orang lain. Membaca puisi pada hakikatnya merupakan upaya menyampaikan apa yang dipikirkan atau apa yang dirasakan penulis puisi kepada pendengar atau pembaca (Doyin, 2008:1). Maka, mestinya itu bukan membaca melainkan membacakan. Perlu diperjelas lagi terutama pada kata membacakan, afik me-kan pada kata membacakan merupakan bentuk afik yang mengharuskan hadirnya objek yang diikuti pelengkap. Oleh karena itu, konsep membaca puisi dalam konteks pembelajaran membaca puisi secara gramatikal kurang tepat. Konteks itu lebih bermakna reflektif, membaca untuk dirinya sendiri padahal yang dimaksudkan membaca tersebut untuk orang lain. Kalau itu yang dimaksud, yang betul bukan membaca melainkan membacakan. Akan tetapi, membacakan puisi juga kurang tepat karena membacakan bukan untuk puisi melainkan untuk audien atau penonton. Jadi, secara logika bahasa yang benar adalah pembelajaran membacakan audien puisi. Pertentangan membaca puisi, membacakan puisi, atau membacakan audien puisi menjadi tidak berarti manakala membaca dianggap sebagai sebuah istilah. Artinya, kata membaca maupun membacakan sama-sama dibenarkan.
4. Langkah-langkah Membaca Puisi
Dalam membaca puisi ada tiga tahap yang harus dilalui, yaitu: (1) pramembaca, (2) saat pembacaan, (3) pascamembaca. Ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (Doyin 2008:23). Oleh karena itu, pembaca puisi benar-benar harus memperhatikan itu. Sebaiknya marilah kita ikuti penjelasan tahap-tahap pembacaan sebagai berikut.
a. Pramembaca
Setidaknya ada empat aktivitas yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu: (1) analisis situasi dan pendengar, (2) memilih puisi, (3) membedah puisi, (4) mengadakan pelatihan.
1) Analisis Situasi dan Pendengar
Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang yang akan membaca puisi adalah menganilisis situasi dan pendengar. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada saat kita akan membaca puisi di mana tempatnya, siang atau malam, di dalam atau di luar ruangan, dalam suasana sedih, serius, atau gembira, dan sebagainya dan juga untuk mengetahui siapa calon pendengarnya, hal-hal yang berkaitan dengan usia, agama, pendidikan, jenis kelamin, dan sebagainya. Pendek kata, pada langkah ini kita bermaksud mengetahui kapan, di mana, dalam keadaan yang bagaimana, serta siapa audiennya.
2) Memilih Puisi
Setelah melakukan analisis dan mengetahui situasi pendengar, kita baru bias memilih teks puisi yang akan kita baca. Beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan dalam memilih teks puisi yaitu disesuaikan dengan anak SMA sebagai pembaca. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membaca puisi itu antara lain puisi harus sesuai dengan usia pendengar, minat pendengar, dunia pendengar mengandung unsur pedagogis, panjang pendeknya sesuai dengan waktu yang tersedia, harus selesai dalam sekali tampil, sesuai dengan sudut pandang pembaca, tidak menyinggung pendengar, dimengerti, disenangi, dan dikuasai oleh calon pembaca.
3) Membedah Puisi
Maksud dan langkah ini adalah calon pembaca mengupas tuntas isi teks puisi yang akan dibaca. Langkah ini juga dimaksudkan agar calon pembaca memahami benar isi puisi yang akan dibaca. Apa isi puisi tersebut, bagaimana suasananya, katakatanya, dan sebagainya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam langkah ini.
4) Pelatihan
Pelatihan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung berarti pembaca berlatih membaca dengan interpretasi yang tepat, vocal yang jelas serta ekspresi yang benar, sedangkan secara tidak langsung berarti dapat ditempuh dengan cara menonton orang membaca puisi, membaca buku-buku, atau bertanya kepada orang lain tentang teknik-teknik pembacaan, atau juga pelatihan dasar, seperti melatih cara berkonsentrasi, dan cara melafalkan kata.
b. Saat Pembacaan
Setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam tahap ini, yaitu masalah penghayatan, intonasi, dan penampilan. Ketiga hal ini sering disebut dengan istilah komponen dalam pembacaan puisi. Marilah kita ikuti ketiga komponen sebagai berikut.
1) Penghayatan
Penghayatan dalam pembacaan puisi setidaknya dapat dipahami dalam tiga hal. Ketiga hal itu dapat penulis jelaskan bahwa a) pemahaman isi terkait dengan makna yang terkandung dalam puisi, b) pemenggalan dari kata satu ke kata yang lain dari baris satu ke baris yang lain, c) ekspresi tergantung pada suasana santai, senang, atau sedih. Kemampuan ekspresi tergantung pula pada pemahaman terhadap puisi. Pemahaman akan puisi mutlak harus dilakukan oleh pembaca puisi. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar untuk dapat memahami puisi tersebut. Oleh karenanya, sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi, terlebih dahulu kita sendiri harus memahaminya. Paling tidak, dalam langkah ini kita harus mampu mengungkap makna yang terkandung dalam puisi itu dan bagaimana suasananya.
Pemahaman akan membawa kita mampu memenggal secara tepat bagian-bagian dari puisi. Perpindahan dari kata yang satu ke kata yang lain atau dari baris yang satu ke baris yang lain, misalnya, akan sangat ditentukan oleh pemahaman tersebut. Demikian juga dengan ekspresi muka. Ekspresi muka sangat berkaitan dengan suasana puisi. Suasana kesungguhan, santai, senang, sedih, atau datar-datar saja akan tampak dalam ekspresi. Kemampuan menampakkan ekspresi ini sangat bergantung kepada pemahaman kita terhadap puisi yang ada.
2) Vokal
Ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini, yaitu ; 1) tekanan yaitu keras lembut, cepat lambat, tinggi rendah. Ini berguna untuk mengatasi cara membaca yang monoton; 2) kejelasan ucapan, yaitu vokal yang jelas dan keras; 3) jeda yaitu cara pengambilan nafas, memutus baris-baris puisi.
Dalam musik, kita mengenal tiga tekanan, yaitu tekanan nada, tekanan tempo, dan tekanan dinamik. Dalam pembacaan puisi ketiga tekanan tersebut juga berlaku. Kita harus pandai memvariasikan antara keras dan lembut, cepat dan lambat, serta tinggi rendahnya. Ketiga tekanan ini harus divariasikan agar tidak terjadi pembacaan bersifat monoton.
Karena ujung makna puisi ada pada kata-kata yang dipakai, tuntutan kejelasan pengucapan kata-kata tersebut menjadi mutlak sifatnya. Orang mengatakan bagian tertentu dengan menyebut vokal yang jelas. Kaitannya dengan vokal ini, dalam hal mengambil nafas, memutus baris-baris puisi, juga menjadi tuntutan dalam masalah vokal. Bagian terakhir dari vokal ini adalah pilihan lagu dalam pembacaan tersebut. Tidak ada teori khusus yang berbicara tentang bagaimana lagu pembacaan puisi yang baik. Masing-masing orang dan masing-masing puisi memiliki kekhasan tersendiri. Untuk memahami hal ini, kita bisa menganalogikan pada seorang penyanyi. Ada penyanyi yang bersuara kecil, ada penyanyi yang bersuara besar, ada yang bersuara berat dan kita bisa mengatakan bagus pada semua jenis suara tersebut.
3) Penampilan
Dalam komponen penampilan hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain: 1)”Blocking” yaitu posisi bagaimana kita memposisikan tubuh pada saat membaca puisi. 2) Teknik muncul, yaitu bagaimana cara kita memperlihatkan diri agar menarik perhatian penonton atau pendengar. 3) Pemanfaatan ”setting” yaitu bagaimana cara kita memanfaatkan ruangan dan peralatan yang ada. 4) Gerakan tubuh, yaitu bagaimana gerakan tubuh yang sesuai dengan ekspresi. 5) Pandangan mata, yaitu pandangan yang dharapkan seluruh penonton atau pendengar dapat melihat pembaca dan sebaliknya pembaca harap melihat semua penonton. 6) Pengelolaan diri, yaitu pembaca harus dapat menempatkan diri dengan pas dan membawakan sesuai dengan harapan penonton. 7) Pakaian/kostum, agar penampilan lebih menarik sebaiknya pembaca puisi memakai kostum yang sesuai dengan situasi dan kondisi saat pembacaan berlangsung.
”Bloking” mencakupi masalah bagaimana kita memposisikan tubuh kita pada saat membaca puisi. Apabila kita harus menghadapi pembaca, membelakangi, atau campuran keduanya. Pendek kata, bagaimana kita memanfaatkan ruangan yang ada, itulah persoalan ”bloking”. Di sini juga termasuk pemanfaatan peralatan-peralatan yang ada. Gerakan tubuh, pandangan mata, serta pakaian yang digunakan, tentu saja harus disesuaikan dengan puisi yang kita bawakan serta suasananya. Pembacaan puisi dapat dinikmati kalau pembaca mampu membaca puisi dengan baik. Pembaca puisi yang baik sangat memperhatikan unsur penyangga seni baca puisi. Unsur penyangga baca puisi meliputipenghayatan, pelafalan, dan penampilan.
Seorang pembaca puisi yang baik tentu berupaya menghayati isi puisi yang dibacanya. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penghayatan puisi adalah penggalan kalimat dan irama. Seorang pembaca puisi harus tahu secara pasti penggalan kalimat yang ada dalam puisi. Selanjutnya pembaca puisi harus pula menentukan irama atau pola pembacaan yang tepat. Keraskah, lemahkah, atau lembutkah puisi itu harus dibaca. Kemungkinan-kemungkinan itu harus ditemukan oleh seorang pembaca puisi sebelum ia membacakan puisi di muka umum. Hal itu penting untuk meminimalisasi kesalahan.
Di dalam pelafalan yang perlu diperhatikan yaitu ketepatan ucapan dan kemerduan suara. Pengucapan kata hendaknya tepat disertai dengan volume suara yang serasi dengan makna yang dikandungnya. Panduan pelafalan dan penghayatan yang sudah kental hendaknya dimunculkan dalam penampilan.
Dalam penampilan, mimik dan gerak perlu disertakan. Mimik adalah perubahan wajah yang mengekspresikan suasana puisi. Jadi, jelas yang dimaksud dengan penampilan dalam pembacaan puisi bukan tampilan cara berpakaian dan juga tampilan cara berjalannya seorang pembaca puisi. Gerak yang dimaksudkan adalah gerakan tubuh yang timbul karena desakan perasaan. Jadi, gerakan dalam pembacaan puisi bukan gerakan yang diciptakan untuk menyertai pembacaan puisi melainkan gerakan yang muncul akibat kuatnya penghayatan. Jadi dapat disimpulkan bahwa unsur penyangga membaca puisi terdiri atas (1) penghayatan yang meliputi pemenggalan kalimat dan irama, (2) pelafalan yang meliputi ketepatan ucapan dan kemerduan suara, dan (3) penampilan yang meliputi ekspresi, mimik, dan gerak.
c. Pasca membaca
Pada tahap ini hal penting yang harus kita lakukan adalah evaluasi dan tindak lanjut. Evaluasi ini penting dilakukan agar pembaca mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam membaca puisi. Pengetahuan akan kekurangan dan kelebihan inilah yang kemudian harus kita tindak lanjuti, dalam arti hal-hal yang sudah baik ditingkatkan dan hal-hal yang masih kurang diperbaiki.
5. Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Membaca Puisi
Menurut Wiyanto, (2002:44-47) tiga cara yang perlu diperhatikan membaca puisi, antara lain 1) pemanfaatan alat ucap, 2) penguasaan faktor kebahasaan, dan 3) penguasaan faktor nonkebahasaan.
a. Pemanfaatan Alat Ucap
Setiap orang normal tentu memiliki alat ucap (mulut). Keterampilan memanfaatkan alat ucap tersebut sebetulnya sudah diperolah secara tidak sadar sejak masih kanak-kanak, yaitu ketika mulai belajar mengucapkan kata. Pemanfaatan alat ucap sebagai alat komunikasi sudah sering dilakukan. Akan tetapi, memanfaatkannya untuk mengekspresikan puisi yang dibacakannya barangkali merupakan masalah yang tidak mudah. Sebab, pembaca harus lebih dahulu memahami puisi yang dibacanya.
b. Penguasaan Faktor Kebahasaan
Penguasaaan faktor kebahasaan meliputi pelafalan dan intonasi. Ialah usaha untuk mengucapkan bunyi bahasa baik suku kata, kata, frase, maupun kalimat. Pelafalan dalam membacakan puisi maksudnya ialah pelafalan bunyi yang sesuai dengan jiwa dan tema puisi. Intonasi dalam pembacaan puisi berkaitan dengan ketepatan penyajian irama puisi. Irama ini dapat diperoleh dengan memperhatikan jenis-jenis tekanan, yaitu (1) tekanan dinamik, (2) tekanan nada, dan (3) tekanan tempo. Penjelasannya sebagai berikut.
1) Tekanan Dinamik
Tekanan dinamik adalah tekanan berupa ucapan keras pada kata yang terpenting, yaitu kata yang menjadi intisari kalimat atau intisari bait puisi. Adanya tekanan dinamik menjadikan pembacaan puisi lebih bervariatif dan tidak monoton. Dengan tekanan dinamik, pembacaan puisi akan semakin bisa dihayati totalitas isi puisi.
2) Tekanan Nada
Tekanan nada ialah tekanan tinggi rendah suara. Perasaan girang, gembira, marah, keheranan, sering diucapkan dengan menaikkan nada suara. Sebaliknya, perasaan sedih, biasanya diucapkan dengan cara merendahkan suara.
3) Tekanan Tempo
Tekanan tempo ialah cepat lambatnya pengucapan kata atau kalimat. Kata atau kalimat yang di ucapkan cepat berarti menggunakan tempo (waktu) sedikit. Sebaliknya, kata atau kalimat yang di ucapkan lambat memerlukan waktu yang lebih lama.
c. Penguasaan Faktor Nonkebahasaan
Selain menguasai faktor kebahasaan, pembaca puisi perlu menguasai factor nonkebahasaan, yaitu (1) sikap wajar dan tenang, (2) gerak-gerik dan mimik, (3) volume suara, (4) kelancaran dan kecepatan.
1) Sikap Wajar dan Tenang
Seseorang yang membacakan puisi haruslah berusaha menarik perhatian pendengar. Salah satu yang dapat dilakukan adalah berusaha bersikap tenang dan wajar. Kedua sikap tersebut membuat pendengar menaruh kepercayaan terhadap kemampuan seseorang yang membacakan puisi. Agar dapat bersikap wajar dan tenang, pembaca haruslah menguasai puisi yang akan dibacanya. Selain itu perlu melakukan latihan berulang-ulang sampai benar-benar yakin bahwa dirinya dapat melakukan dengan baik. Dengan demikian secara psikologis, seorang yang membacakan puisi terbebas dari rasa cemas dan khawatir.
2) Gerak-Gerik dan Mimik
Tekanan nada ialah tekanan tinggi rendah suara. Perasaan girang, gembira, marah, keheranan, sering diucapkan dengan menaikkan nada suara. Sebaliknya, perasaan sedih, biasanya diucapkan dengan cara merendahkan suara.
3) Volume Suara
Volume suara perlu disesuaikan dengan tempat, jumlah pendengar, dan ada tidaknya pengeras suara, artinya harus diupayakan agar suara dapat didengar dengan jelas oleh setiap pendengar, tetapi jangan terlalu keras. Seuara yang terlalu keras dapat memekakkan telinga.
4) Kelancaran dan Kecepatan
Kelancaran pembacaan dapat membantu pendengar untuk menangkap bacaan yang jelas. Pembacaan yang terlalu cepat mengakibatkan pendengar sulit memahaminya bahkan menyebabkan pendengar mudah lelah. Pembacaan yang terlalu lambat mengakibatkan pendengar merasa tidak sabar menunggu dan jenuh.
6. Teknik Membaca Puisi
Ada beberapa teknik membaca puisi yang lazim digunakan para pembaca puisi. Teknik membaca puisi itu (Soleh, 2010:1-6) antara lain 1) membaca puisi dengan membawa teks, 2) membaca puisi dengan teknik deklamator, 3) membaca puisi dengan teknik keaktoran, dan 4) membaca puisi dengan teknik dramatisasi.
a. Membaca Puisi dengan Teknik Membawa Teks
Membaca puisi dengan membawa teks dan membacanya dengan mengikuti emosi yang sesuai dengan isi puisi tersebut. Posisi yang dilakukan bisa berdiri atau duduk bergantung pada kebutuhan pembacanya.
b. Membaca Puisi dengan Teknik Deklamator
Membaca puisi dengan teknik deklamator pada umumnya tidak membawa teks. Pembaca puisi dengan teknik ini disebut deklamator. Kebutuhan menghapalkan teks puisi oleh para deklamator bertujuan untuk penghayatan yang tepat sesuai motivasi dari emosi puisi. Para deklamator cenderung memiliki suara yang kuat, dengan kepatuhan pada tanda baca, selain gerakan-gerakan yang terarah sesuai dengan kebutuhan isi puisi.
c. Membaca Puisi dengan Teknik Keaktoran
Membaca puisi teknik keaktoran ini cenderung rumit. Pembaca dituntut mengekpresikan seluruh puisi melalui metode pemeranan. Dengan teknik keaktoran, ekspresi jiwa puisi tampak pada emosi pembaca. Seringkali pembaca puisi memainkan peran dalam pembacaannya. Gerakan kepala, bahu, tangan, kaki, dan badan dimaksimalkan secara total. Oleh karena itu, aktualisasi jiwa puisi harus menyatu dengan aktualisasi diri pembaca. Pada hakikatnya membaca puisi dengan deklamasi puisi adalah sama, yaitu ketika seseorang membaca puisi juga membutuhkan teknik deklamasi dalam membaca nya. Di antaranya, memperhatikan vokal, pelafalan, ekspresi/mimik, intonasi, penghayatan, serta gesture yang sesuai dengan isi puisi.
C. Dramatisasi
Dramatisasi puisi atau mendramakan puisi hakikatnya adalah mendialogkan puisi. Ada penggabungan dua unsur seni di dalamnya yaitu seni baca puisi dan seni drama (Doyin, 2008:6). Hal ini sejalan dengan pendapat Haryanto (2009:9) bahwa karakteristik drama adalah dialog. Dramatisasi dapat diartikan sebagai upaya mendialogkan puisi. Mendialogkan puisi berbeda dengan membacakan puisi secara bergantian. Puisi yang bisa didramatisasiikan adalah jenis puisi yang mengandung unsure drama. Unsur drama tersebut berupa dialog. Jadi, puisi untuk dramatisasi memiliki unsur dramatik, berupa dialog di samping unsur naratif, berupa cerita.
Dramatisasi puisi memerlukan kolaborasi antar pemeran. Untuk itu, dramatisasi memerlukan penyutradaraan sederhana yang bertugas memberikan instruksi secara garis besar permainan dramatisasi puisi (Waluyo 2001:98). Penyutradaraan ini diperlukan untuk memberikan anasir dalam dramatisasi berupa 1) menginterpretasikan isi puisi, 2) mengubah puisi menjadi dialog, 3) memberikan instruksi garis besar permainan dramatisasi puisi. 4) mengatur dialog, akting, setting, dan property seperlunya.
Latihan dasar teater banyak ragamnya. Berbagai ragam latihan dasar teater Didin Widyartono, Rendra, Asul Wiyanto, Harymawan, dan R.H. Prasmandji yang bisa diadopsi atau diadaptasi untuk pembelajaran membaca puisi antara lain berupa latihan 1) olah tubuh, 2) olah napas, 3) olah vokal, 4) konsentrasi, 5) imaginasi/penghayatan, dan 6) ekspresi. Keenam bentuk latihan dasar teater dapat penulis jelaskan sebagai berikut.
1. Olah Tubuh
Latihan olah tubuh diperlukan untuk membuat kondisi tubuh yang lelah menjadi bugar. Olah tubuh ini bisa dimulai dengan : (1) gerakan kepala; menoleh kanan kiri, atas bawah, dan berputar, (2) senam mimik : ekspresi menangis, tertawa, melongo, sinis, kejam, dan lain-lain, (3) gerakan tangan: membentuk huruf S, lengan dibuka dan ditutup, dan lain-lain (4) gerakan kaki; diangkat ke depan, ke kanan, ke kiri, dan lain-lain. Bergantian dari kaki kanan dan kiri, (5) ditutup dengan berlari-lari kecil. Senam ini dapat dikreatifitaskan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki fasilitator, dalam hal ini guru. Setelah itu, langsung dilanjutkan olah napas.
2. Olah Napas
Dalam olah napas, dikenal pernapasan dada dan perut. Kedua jenis pernapasan ini harus dipadukan untuk memperoleh kualitas vokal dan penghayatan yang memerlukan perpaduan lagi dengan detak jantung dan imajinasi. Latihan ini dapat dilakukan dengan, (1) siswa diminta untuk mengambil napas kecil, kemudian mengeluarkannya. (2) setelah dirasa cukup, siswa diminta untuk menarik napas dan menyimpannya dalam dada, kemudian mengeluarkannya dengan pelan-pelan. (3) siswa diminta mengambil napas dengan 3 hitungan, diminta menahannya dengan 3 hitungan, dan mengeluarkannya secara perlahan-lahan dengan hitungan 3 juga (melakukan pernapasan segitiga), (4) latihan berikutnya ditingkatkan menjadi 5 hitungan, 7 hitungan, 9 hitungan, dan semampunya. (5) setelah dirasa cukup, siswa diminta melakukan proses nomor 2-4 dengan menyimpannya di perut. (6) siswa diminta mengambil napas terengah-engah berbagai posisi, misalnya terlentang atau berdiri.
3. Olah Vokal
Dalam olah vokal, (1) siswa diminta berbisik dengan mengucapkan beberapa larik puisi. (2) Setelah itu, diminta berteriak hingga artikulasi dan intonasinya tepat dan terdengar dalam jarak sesuai dengan ukuran proporsional. (3) Siswa kemudian diminta untuk menilai satuan suara (desible) milik temannya ketika berbisik maupun berteriak dengan dua pilihan, yaitu sama atau berbeda desible-nya. Setiap siswa berpasangan dan melakukannya secara bergiliran. (4) Setelah mengetahui kapasitas desible temannya, setiap siswa diwajibkan untuk dapat mengetahui berapa keras, lantang, dan lembut suaranya agar terdengar sesuai dengan kapasitas proporsi ruang (jika dilakukan dalam ruangan). (5) Siswa diminta untuk mengucapkan beberapa larik dalam bait-bait puisi di dalam ruang dan di luar ruang. Latihan olah napas dapat melibatkan kelompok silat olah pernapasan. Sedangkan latihan vokal dapat melibatkan kelompok paduan suara yang lebih memahami tentang olah vokal yang baik. Paling tidak, teknik dan materinya tidak menyimpang jauh dan usefull. Kemudian, dilanjutkan latihan konsentrasi.
4. Konsentrasi
Konsentrasi merupakan salah satu latihan dasar dalam membaca puisi. Hal ini akan sangat bermanfaat ketika performansi nantinya. Membacakan puisi bukan membaca puisi untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Jadi proses membaca puisi dilakukan di hadapan orang lain. Untuk itulah, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mengatasi segala rangsangan yang bisa mengganggu proses pembacaan puisi.
Adapun langkah-langkah untuk melakukan latihan dasar konsentrasi adalah (1) Siswa diminta untuk menanggalkan semua aksesori yang mengikat di tubuh, seperti arloji, gelang, dan lainnya. Upayakan mereka juga mengendurkan ikat pinggang. Jika mereka memakai sepatu, sebaiknya dilepas berikut kaos kakinya. (2) Semua siswa diminta untuk mencari posisi yang sangat rileks. Hal ini dilakukan agar aliran darah yang mengalir dari jantung berjalan sangat lancar dan membuat tubuh bugar. Siswa diperbolehkan untuk duduk hingga merebahkan diri. Namun siswa harus diingatkan agar jangan sampai tertidur karena terbawa oleh hawa. Konsentrasi bukan mengosongkan pikiran, tetapi memusatkan perhatian pada satu titik. (3) Siswa diajak untuk memejam mata agar lebih mudah melakukan konsentrasi. (4) Siswa diajak untuk memusatkan pikiran dengan cara mendengarkan suara-suara yang paling jauh. (5) Jika dirasa bahwa siswa sudah dapat memusatkan pikiran pada pikiran yang jauh, siswa diajak untuk mencari dan memusatkan pikiran dengan mendengarkan suara-suara yang jauh dengan cara mengidentifikasi bunyi dan mengakrabinya. (6) Setelah itu, siswa diajak untuk mencari dan memusatkan perhatian pada suara-suara yang dekat dengan mereka. Biarkan mereka mengidentifikasinya dan mengakrabinya. (7) Setelah dirasa cukup, ajaklah siswa untuk mencari, mendengarkan, dan memusatkan perhatian pada suara yang sangat dekat, yaitu detak jantungnya. Biarkan mereka berkonsentrasi pada detak jantungnya. Ajaklah mereka untuk benar-benar merasakan detak jantungnya mulai dari gejala berdenyut, berdenyut hingga efek yang ditinggalkan setelah denyut itu selesai dan menuju ke denyut selanjutnya. Biarkan mereka mengakrabinya. Usahakan agar aliran darah mengalir dengan lancar. Jika ada salah satu bagian tubuh, misalnya siku atau lutut, ditekuk, maka akan menyebabkan aliran darah tidak lancar dan menyebabkan kejang atau kram. Kemudian, langsung dilanjutkan latihan imajinasi.
5. Latihan Imajinasi
Latihan imajinasi (1) memberikan kesadaran bahwa denyut jantung sesungguhnya memompa darah ke seluruh tubuh. (2) memberikan kesadaran bahwa dengan mengendalikan detak jantung yang dipadukan dengan napas mampu membawa pada suasana yang diinginkan. (3) mengajak siswa berkonsentrasi pada area kepala dengan fokus mata. Bahwa mata yang dimiliki memiliki potensi untuk melirik, melotot, terpejam, dan lain-lain. Siswa diajak berimajinasi tentang apa yang terjadi di dalam puisi yang telah dipilih. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan bola mata yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. (4) setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk berkonsentrasi pada mulut. Sama dengan mata, mulut juga memiliki potensi untuk bisa maksimal. Mulut bisa untuk melongo, menguap, tertutup, dan lain-lain. Siswa diajak berimajinasi tentang apa yang terjadi di dalam puisi yang telah dipilih. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan bibir yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Bibir memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik. (5) setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk memadukannya dengan gerak wajah atau mimik. Siswa diminta berkonsentrasi pada bentuk mimik. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana bentuk mimic yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Mimik memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik. (6) setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk memadukannya dengan gerak kepala. Siswa diminta berkonsentrasi pada gerakan kepala. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan kepala yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Kepala memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik. (7) siswa kembali diminta untuk berkonsentrasi pada bagian tengah dari tubuh, khususnya bagian atas punggung atau pundak. Bagaimana gerakan punggung yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Punggung memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik. (8) siswa diajak berkonsentrasi dan berimajinasi pada bagian tangan. Siswa diminta untuk tetap berimajinasi pada puisi yang telah dipilih. Bagaimana gerakan punggung yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Tangan memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik. Setelah itu, langsung dilanjutkan dengan latihan ekpsresi.
6. Latihan Ekspresi
Setelah latihan imaginasi dirasa cukup, (1) siswa diminta untuk membayangkan jika seandainya mereka benar-benar menyaksikan peristiwa tersebut bahkan mengalaminya sendiri. (2) Upayakan agar mereka bisa “lepas” dalam menghayati. Biarkan mereka menangis bahkan tertawa. Usahakan agar tidak mengeluarkan kata-kata terlebih dulu. (3) Biarkan siswa larut dan mengekspresikannya dengan larik-larik dalam puisi yang diingat. (4) Jika siswa sudah lepas, minta mereka perlahan-lahan mengendalikan ekspresi itu. (5) Jika siswa sudah bisa mengendalikan, siswa diminta untuk mengambil nafas pelan-pelan kemudian mengeluarkannya. Lakukan secukupnya. (6) Jika siswa dalam kondisi yang tenang, siswa diminta untuk menggerakkan jari-jemari tangan dengan pelan-pelan dan merasakannya dari kondisi sebelum digerakkan, bergerak, hingga sudah digerakkan. Siswa diminta untuk merasakan angin yang melewati tangan. (7) Lakukan proses yang sama dengan jari-jemari kaki. (8) Setelah dirasa cukup, semua siswa diminta untuk membuka mata perlahan-lahan dan menyadari bahwa tubuhnya masih terdapat di tempat yang menjadi latihan tadi, misalnya aula, tempat parkir, kelas, lapangan, dan lain-lain. (9) Untuk ikut mengekspresikan semua kepenatan yang ada dalam jiwa, dalam hitungan ketiga, semua siswa diminta untuk mengambil napas dan mengeluarkannya dengan teriakan “hah….”
Setelah melakukan teknik latihan di atas, semua siswa diminta untuk membacakan puisi di depan siswa yang lain. Beberapa catatan yang perlu diingat adalah: (1) Membaca puisi berbeda dengan membacakan puisi. Membacakan puisi dilakukan untuk orang lain. Jadi, makna yang terdapat dalam bentuk puisi disampaikan semaksimal mungkin agar isi puisi bisa “sampai” di penonton. (2) Seseorang yang membacakan puisi harus benar-benar memahami makna yang terkandung dalam puisi tersebut atau dengan istilah menemukan nyawa puisi. Jika ada orang yang membacakan puisi tanpa memahami makna puisi tersebut, maka tidak ada bedanya dengan orang gila yang sedang kesumat. (3) Penghayatan dan ekspresi harus total, namun emosi tetap terkontrol. Jika ekspresinya dilepas begitu saja, maka emosi tidak terkontrol dan proses pembacaan puisi akan terganggu karena pembaca puisi asyik dengan emosinya sendiri. Akibatnya isi puisi tidak sampai pada penonton. (4) Intonasi dan artikulasi dalam membacakan puisi harus dilatih lebih intensif. Karena dua hal inilah yang menjadi faktor utama dalam mengantarkan kata-kata untuk menyampaikan makna dari penyair menuju ke penonton melalui transkata dari pembaca puisi. (5) Dalam membacakan puisi, dapat memakai metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Namun pada akhirnya nanti, setiap siswa harus memiliki karakteristik sendiri dalam membacakan puisi, atau lazim dikenal dengan istilah be your self.
D. Tujuan Pembelajaran Membaca Puisi
Pembelajaran membaca puisi di SMA dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkaitan dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, dan daya imaginasi, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup seperti yang diungkapkan. Pradopo (2009) bahwa puisi adalah ekspresi kreatif. Oleh karena itu, membaca puisi hakikatnya mengekpresikan pikiran dan perasaan penulisnya sesuai dengan interpretasi, vokal, dan penampilan. Untuk bisa tampil membaca puisi dengan baik dan berhasil, Sutjahjono R (dalam Haryono, 2009:36) diperlukan tiga unsur pokok yaitu 1) sikap physic, 2) teknik ucapan, dan 3) cara penyampaian.
Pertama, sikap physic. Dasar dari sikap ini adalah rileks dan pemusatan pikiran. Rileks di sini bukan berarti seenaknya melainkan dituntut disiplin akan gerak yang yakin dan bertujuan sesuai dengan sajak yang dibacakan. Kedua, teknik ucapan. Teknik ini mencakup volume, ritme, intonasi, diksi, artikulasi, cepat lambat dan sebagainya. Dan, ketiga, cara penyampaian. Penyampaian atau penafsiran benar sesuai tujuan yang dimaksud dari isi sajak. Ketiga hal itu tidak datang begitu saja bagi para pembaca puisi tetapi harus melalui proses latihan secara intensif. Tanpa latihan, pembaca puisi mustahil akan bisa membaca puisi dengan baik. Itulah tiga hal yang perlu diperhatikan oleh pembaca puisi agar bisa membaca puisi dengan baik, membaca puisi yang benar-benar bisa dinikmati oleh audien.
E. Model Draladater
1. Pengertian
Model Draladater (Dramatisasi Latihan Dasar Teater) hakikatnya merupakan bentuk model pembelajaran dengan mengintegrasikan dramatisasi dan latihan dasar teater ke dalam pembelajaran membaca puisi. Model Draladater ini didesain dengan berdasarkan pada 1) Prinsip-prinsip pembelajaran membaca puisi sesuai hasil analisis kebutuhan guru dan siswa, 2) Data empiris dalam pembelajaran membaca puisi, 3) Strategi pembelajaran sastra yang sudah ada yaitu Strategi Stratta.
2. Komponen Model Draladater
Komponen Model Draladater yang meliputi (1) tujuan dan asumsi, (2) sintakmatik, (3) sistem sosial, (4) prinsip pengelolaan / reaksi, (5) sistem pendukung, dan (6) dampak instruksional serta dampak pengiring atau nilai sertaan. Sudah menjadi naluri, seseorang itu secara psikis akan mau serta akan lebih berani melakukan sesuatu manakala 1) seseorang itu melakukan sesuatu secara bersama-sama, berkolaborasi, 2) seseorang itu memiliki kompetensi terhadap sesuatu yang akan dilakukan. Kedua hal tersebut menjadi syarat mutlak yang harus terpenuhi untuk mau berbuat atau melakukan sesuatu. Demikian juga dalam pembelajaran membaca puisi, siswa mengalami kecemasan untuk maju membacakan puisi disebabkan 1) adanya kecemasan; 2) kurang dimilikinya bekal kompetensi membaca puisi. Oleh karena itu, pengintegrasian dramatisasi dan latihan dasar teater perlu dalam pembelajaran membaca puisi.
Pertama pengintegrasian dramatisasi ke dalam pembelajaran membaca puisi. Pengintegrasian ini bertujuan untuk mengatasi siswa yang mengalami kecemasan, demam panggung, malu, minder, dan kurang percaya diri. Dalam pembelajaran, kecemasan bisa menjadi faktor yang menghalangi pembelajaran dan karenanya kecemasan patut mendapatkan perhatian. Kedua pengintegrasian latihan dasar teater ke dalam pembelajaran membaca puisi. Pengintegrasian ini bertujuan untuk membekali siswa dengan olah fisik, olah napas, olah vokal, konsentrasi, imaginasi, dan ekspresi agar siswa lebih terampil membaca puisi. Dengan melakukan latihan dasar teater secara intensif, siswa akan memiliki kompetensi membaca puisi dengan baik. Bagan berikut akan memperjelas alur pengembangan model Draladater dalam pembelajaran membaca puisi siswa.
3. Penerapan Model Draladater
Pelaksanaan pembelajaran membaca indah puisi dengan model Draladater berbantuan media audiovisual ini merupakan sebuah pembelajaran yang dirancang untuk membuat siswa lebih memiliki rasa percaya diri dan termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya dalam membaca indah puisi. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran dibagi menjadi empat langkah. Langkah-langkah pembelajaran tersebut sebagai berikut.
a. Orientasi
Kegiatan pembelajaran diawali dengan orientasi untuk mengkomunikasikan dan menyepakati tugas dan langkah pembelajaran. Guru mengemukakan tujuan, materi, waktu, langkah, hasil akhir yang diharapkan dari siwa serta penilaian yang diterapkan. Siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya. Dengan negosiasi tersebut, diharapkan akan terjadi kesepakatan antara guru dan siswa.
b. Eksplorasi
Pada tahap ini, siswa melakukan eksplorasi terhadap masalah atau konsep yang akan dikaji. Eksplorasi dilakukan dengan siswa melihat tayanan video berbagai variasi cara pembacaan puisi. Dari mengamati berbagai pembacaan puisi tersebut siswa akan mendapatkan banyak konsep membaca puisi. Kalau siswa sudah mempunyai banyak konsep, maka siswa akan mampu berkreasi melakukan membaca puisi. Pada tahap ini pula, siswa melakukan tanya jawab dengan guru terkait pemodelan membaca puisi. Dengan Tanya jawab tersebut akan memperjelas konsep membaca puisi. Dengan adanya banyak konsep maka siswa akan lebih mengembangkan kreativitasnya dalam membaca puisi.
c. Interpretasi
Dalam tahap interpretasi, hasil eksplorasi diinterpretasikan melalui kegiatan diskusi kelompok. Pada tahap ini siswa membentuk kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas 4-5 siswa. Dalam kegiatan kelompok ini guru menyediakan beberapa puisi berbagai angkatan. Dari berbagai puisi tersebut siswa memilih dua puisi. Puisi pertama yaitu puisi yang udah menjadi pilihan kelompok yang digunakan untuk dramatisasi sedangkan puisikedua yaitu puisi yang digunakan untuk pembacaan puisi secara individu. Setelah memilih puisi, masing-masing kelompok mendiskusikan puisi yang akan ditampilkan untuk dramatisasi. Hal-hal yang harus didiskusikan diantaranya; (1) membaca puisi untuk memahami makna, (2) memberi penanda jeda, (3) mengubah puisi menjadi dialog (khusus untuk puisi yang diunakan untuk dramatisasi). Siswa tidak akan bisa membaca puisi dengan baik jika ia tidak biasa memahami makna puisi dengan baik. Pada tahap ini, siswa diharapkan mampu melakukan hal-hal tersebut dengan baik, termasuk mengubah puisi menjadi dialog.
d. Rekreasi
Pada tahap rekreasi ini, siswa ditugaskan untuk menyiapkan sebuah konsep pementasan dramatisasi puisi. Dalam kegiatan inilah konsep ladater dilakukan. Guru dan siswa kemudian melakukan kegiatan latihan dasar teater untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam membaca puisi. Kegiatan yang dilakukan diantaranya : (1) oalah tubuh, (2) olah napas, (3) olah vokal, (4) konsentrasi, (5) latihan imajinasi, (6) ekspresi atau penjiwaan. Jika waktu yang tersedia dalam pembeljaran tidak cukup kegiatan latihan dasar teater ini dilakukan siswa diluar kelas. Siswa juga berlatih untuk mempersiapkan unjuk performasi. Siswa mengaplikasikan hasil penjelajahan pada tahap eksplorasi beserta hasil latihan dasar tetaer untuk melakukan latihan pementasan dramatisasi dan baca puisi.
Setelah proses latihan selesai, siswa melakukan unjuk performasi berupa dramatisasi puisi dan pembacaan puisi. Dalam tahap ini, kreativitas siswa dapat dimaksimalkan untuk menentukan konsep pembacaan puisi sehingga pementasan dramatisasi puisi secara kelompok dan pembacaan puisi secara individu dapat dilakukan secara maksimal.
e. Evaluasi
Evaluasi dilakukan selama proses pembelajaran dan pada akhir pembeljaran. Selama proses pembelajaran, evaluasi dilakukan dengan mengamati sikap dan kemampuan berpikir siswa. Evaluasi pada akhir pembelajran adalah evaluasi terhadap produk kreatif yang dilakukan siswa, yaitu unjuk performasi dramatisasi dan pembacaan puisi. Penilaian pada akhir pembelajaran ini tidak hanya dilakukan oleh guru saja melainkan dilakukan oleh siswa juga. Criteria penilaian dapat disepkati bersama pada waktu orientasi.
Pada dasarnya untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias, serta memiliki rasa percaya diri (Erwin Segal, dalam Black, 2003). Dalam konteks pembeljaran kreativitas dapat ditumbuhkan dengan menciptakan suasana kelas yang memungkinkan guru dan siswa merasa bebas mengkaji dan mengeksplorasi topik-topik penting kurikulum. Guru mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir keras, kemudian mengejar pendapat siswa tentang ide-ide besar dari berbagai perspektif. Guru juga mendorong siswa untuk menunjukkan/mendemonstrasikan pemahamannya tentang topk-topik penting dalam kurikulum menurut caranya sendiri (Black,2003).
Dengan menggunakan model draladater berbantuan media audiovisual ini diharapkan siswa mampu berpikir secara kritis, kreatif, dan menghasilkan unju performasi berupa dramatisasi dan pembacaan puisi. Saat proses pembelajaran ini, diharapkan siswa antusias dan merasa termotivasi karena pembelajaran menggunakan model ini menyenangkan dan tidak membosankan.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Chairil. 1991. Kerikil Tajam dan Yang Terapas dan Yang Putus. Jakarta: Dian Rakyat.
Anwar, Chairil. 2009. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Prima.
Broun, H. Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Dipayana, Ags. Arya. 2010. Musikalisasi Puisi untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Pusat Bahasa Kemendiknas.
Doyin, Mukh. 2008. Seni Baca Puisi (Persiapan, Pelatihan, Pembacaan, dan Penilaian). Ambarawa: Bandungan Institute.
Doyin, Mukh. 2009. Cara (Pengalaman) Saya Mengajarkan Sastra. Ambarawa: Bandungan Institute.
Haryanto, M. 2009. Menjadi Maestro Baca Puisi (Teori, Teknik, dan Penerapan).Semarang: Cipta Prima Nusantara.
Haryono, Edi. 2009. Ketika Rendra Baca Sajak. Dalam WS. Rendra (Ed.) Seni Deklamasi di Kota Yogyadan Solo. Jakarta: Burung Merak Press.
Haryono, Edi. 2009. Ketika Rendra Baca Sajak. Nirwanto (Ed.) Rendra Latihan Serius Baca Puisi. Jakarta: Burung Merak Press.
Haryono, Edi. 2009. Ketika Rendra Baca Sajak. H. Sujiwo Tejo (Ed.) Guru Membaca Rendra, Membaca Chairil. Jakarta: Burung Merak Press.
Ismail, Taufiq. 2003. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (Seratus Puisi Taufiq Ismail). Jakarta: Yayasan Indonesia.
Johnson, Lao Anne. 2009. Pengajaran yang Kreatif dan Menarik. Jakarta: Indeks.
Moeljanto, D.S. dan Taufiq Ismail. 1999. Prahara Budaya. Jakarta: Mizan Pustaka.
Noor, Rohinah M. 2011. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra, Solusi Pendidikan Moral yang Efektif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, danPenerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika, Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rendra, WS. 1985. Tentang Bermain Drama, Catatan Elementer Bagi Calon Pemain.Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Sayuti, Suminto A. 2003. Perkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
Smith, Frank. 1987. Undrstanding Reading: a Psikolinguistik Analysis of ReadingandLearning to Read. London: Lawrence Erlbaum Asociates Publisher.
Smith, Mark K. 2009. Teori Pembelajaran & Pengajaran. Jogyakarta: Mitra Media Pustaka.
Soegondo. 2010. Cinta dan Citra Wanita dalam Puisi Naratif Rendra. Semarang: Tesis PPs-Unes.
Subana, Sunarti.2009. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia, BerbagaiPendekatan, Metode, dan Teknik Pengajaran. Bandung: Pustaka Setia.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Program Pasca sarjana UPI dan PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Suharianto, S. 2009. Apresiasi Puisi. Semarang: Bandungan Institut.
Sumardjo, Jakob dan Saini KM. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Jakarta.
Sumiati, Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: Pustaka Prima.
Surana. 2001. Garis Besar Sejarah Sastra Indonesia Lama. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Suroso dan Puji Santoso. 2009. Estetika (Sastra, Sastrawan, dan Negara. Yogyakarta: Pararaton Publishing.
Soleh, Iman. 2010. Pelatihan Membaca Puisi & Cerpen Untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Pusat Bahasa Kemendiknas.
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra (Pengantar Teori Sastra). Jakarta: Girimukti Pasaka.
Indraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Psikologi Sastra (Teori, Langkah, dan Penerapannya). Yogyakarta: FBS UNY.
Indraswara, Suward. 2008. Metodologi Penelitian Sastra (Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1993. Teori Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia.
Waluyo, Herman J. 2001. Drama Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita Graha.
Waluyo, Herman J. 2003. Apresiasi Puisi (Panduan untuk Pelajar dan Mahasiswa). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wiranataputra, Udin S. 2001. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: PAUPPAI Universitas Terbuka.
Wijaya, Putu. 2010. Drama untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Pusat Bahasa Kemendiknas.
Wiyanto, Asul. 2002. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo.
Zaini, Hisyam. Bernawy Munthe. Sekar Ayu Wahyuni. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif.Yogyakarta: Pustaka Insan Madani
Anwar, Chairil. 2009. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Prima.
Broun, H. Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Dipayana, Ags. Arya. 2010. Musikalisasi Puisi untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Pusat Bahasa Kemendiknas.
Doyin, Mukh. 2008. Seni Baca Puisi (Persiapan, Pelatihan, Pembacaan, dan Penilaian). Ambarawa: Bandungan Institute.
Doyin, Mukh. 2009. Cara (Pengalaman) Saya Mengajarkan Sastra. Ambarawa: Bandungan Institute.
Haryanto, M. 2009. Menjadi Maestro Baca Puisi (Teori, Teknik, dan Penerapan).Semarang: Cipta Prima Nusantara.
Haryono, Edi. 2009. Ketika Rendra Baca Sajak. Dalam WS. Rendra (Ed.) Seni Deklamasi di Kota Yogyadan Solo. Jakarta: Burung Merak Press.
Haryono, Edi. 2009. Ketika Rendra Baca Sajak. Nirwanto (Ed.) Rendra Latihan Serius Baca Puisi. Jakarta: Burung Merak Press.
Haryono, Edi. 2009. Ketika Rendra Baca Sajak. H. Sujiwo Tejo (Ed.) Guru Membaca Rendra, Membaca Chairil. Jakarta: Burung Merak Press.
Ismail, Taufiq. 2003. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (Seratus Puisi Taufiq Ismail). Jakarta: Yayasan Indonesia.
Johnson, Lao Anne. 2009. Pengajaran yang Kreatif dan Menarik. Jakarta: Indeks.
Moeljanto, D.S. dan Taufiq Ismail. 1999. Prahara Budaya. Jakarta: Mizan Pustaka.
Noor, Rohinah M. 2011. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra, Solusi Pendidikan Moral yang Efektif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, danPenerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika, Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rendra, WS. 1985. Tentang Bermain Drama, Catatan Elementer Bagi Calon Pemain.Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Sayuti, Suminto A. 2003. Perkenalan dengan Puisi. Yogyakarta: Gama Media.
Smith, Frank. 1987. Undrstanding Reading: a Psikolinguistik Analysis of ReadingandLearning to Read. London: Lawrence Erlbaum Asociates Publisher.
Smith, Mark K. 2009. Teori Pembelajaran & Pengajaran. Jogyakarta: Mitra Media Pustaka.
Soegondo. 2010. Cinta dan Citra Wanita dalam Puisi Naratif Rendra. Semarang: Tesis PPs-Unes.
Subana, Sunarti.2009. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia, BerbagaiPendekatan, Metode, dan Teknik Pengajaran. Bandung: Pustaka Setia.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Program Pasca sarjana UPI dan PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Suharianto, S. 2009. Apresiasi Puisi. Semarang: Bandungan Institut.
Sumardjo, Jakob dan Saini KM. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Jakarta.
Sumiati, Asra. 2007. Metode Pembelajaran. Bandung: Pustaka Prima.
Surana. 2001. Garis Besar Sejarah Sastra Indonesia Lama. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Suroso dan Puji Santoso. 2009. Estetika (Sastra, Sastrawan, dan Negara. Yogyakarta: Pararaton Publishing.
Soleh, Iman. 2010. Pelatihan Membaca Puisi & Cerpen Untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Pusat Bahasa Kemendiknas.
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra (Pengantar Teori Sastra). Jakarta: Girimukti Pasaka.
Indraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Psikologi Sastra (Teori, Langkah, dan Penerapannya). Yogyakarta: FBS UNY.
Indraswara, Suward. 2008. Metodologi Penelitian Sastra (Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1993. Teori Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia.
Waluyo, Herman J. 2001. Drama Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita Graha.
Waluyo, Herman J. 2003. Apresiasi Puisi (Panduan untuk Pelajar dan Mahasiswa). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wiranataputra, Udin S. 2001. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: PAUPPAI Universitas Terbuka.
Wijaya, Putu. 2010. Drama untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Pusat Bahasa Kemendiknas.
Wiyanto, Asul. 2002. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo.
Zaini, Hisyam. Bernawy Munthe. Sekar Ayu Wahyuni. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif.Yogyakarta: Pustaka Insan Madani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar